Perkembangan Motorik/Fisik Siswa

Perkembangan Motorik/Fisik Siswa

Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya. Jadi, perkembangan motorik yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan anak.[8]

Menurut Gleitman, ada 2 bekal  yang dibawa anak sejak lahir yaitu bekal kapasitas motor (jasmani) dan bekal kapasitas panca indra (sensorik).[9]

Bekal pertama yang dibawa anak adalah kapasitas motorik. Kapasitas motorik dapat mendorong anak untuk beraktivitas sebagaimana tugasnya dalam perkembangannya.  Mula-mula seorang anak yang baru lahir hanya memiliki sedikit kendali terhadap aktivitas alat-alat jasmaniahnya. Setelah berusia empat bulan, bayi itu sudah mulai mampu duduk dengan bantuan sanggaan dan dapat meraih atau menggenggam benda-benda didekatnya.

Bekal kedua yang dibawa anak dari rahim ibunya  ialah kapasitas sensorik. Kapasitas sensorik seorang bayi lazimnya mulai berlaku bersama-sama dengan berlakunya reflek-reflek motorik. Berkat adanya bekal sensorik ini, anak dapat memahami pembicaraan orang lain, mengutarakan keinginannya, mengingat kembali simbol-simbol atau benda yang telah diketahuinya,  dan merasakan kesakitan dan kenikmatan dengan baik. Untuk itu pendidik harus membimbingnya dalam melakukan tugas perkembangannya tersebut.

Semua kapasitas yang dibawa anak dari rahim ibunya seperti pemaparan diatas adalah modal dasar yang tampak bermanfaat bagi kelanjutan perkembangannya. Dalam hal ini proses belajar keterampilan tertentu (khususnya di sekolah) merupakan pedukung yang sangat berarti bagi perkembangan fisik anak,terutama dalam perolehan kecakapan-kecakapan psikomotor atau ranah karsa anak tersebut.

Ketika seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6-12 tahun, perkembangan fisiknya mulai tampak benar-benar proposional (berkeseimbangan). Artinya, organ-organ jasmani yang tumbuh serasi. Gerak-gerakan tubuh anak juga menjadi lincah dan terarah seiring dengan munculnya keberanian mentalnya. Contoh jika dalam usia belita atau usia anak TK tidak berani naik sepeda atau memanjat pohon dan melompati pagar, pada usia sekolah ia akan menunjukan keberanian melakukan itu. Gerakan tubuh anak ini disamping karena kemantangan fisiknya, juga disebabkan oleh adanya perkembangan mentalnya.   Namun patut dicatat perkembangan seperti itu. Jikalau tidak ditunjang oleh dukungan proses belajar, Kematangan fisik tersebut akan kurang berarti dan tidak akan menjadikan keterampilan-keterampilan psikomotorik. Belajar keterampilan fisik (motor learning) dianggap telah terjadi dalam diri seseorang apabila ia telah memperoleh kemampuan  atau kematangan fisik dan keterampilan yang melibatkan penggunaan tangan (seperti menggambar) dan tungkai(seperti berlari) secara baik dan benar.

Sumber :

https://advertorial.co.id/meluncur-di-indonesia-ini-harga-xiaomi-mi-a1/