Perkembangan Kognitif Siswa

Perkembangan Kognitif Siswa

Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, dan keyakinan. Ranah kejiawaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi(kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.[10]

Seorang pakar terkemuka dalam displin psikolgi kognitif dan psikologi anak, jean piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan sebagai berikut.[11]

2.2.1.      Sensori-Motorik (0-18 atau 24 bulan)

Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium sensori motorik ini, inteligensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imaginer atau hanya dibayangkan saja.

2.2.2.      Pra-Operasional (± 18 bulan-7 tahun)

Stadium pra-operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi (tidak langsung) serta bayangan dalam mental. Semua proses ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis. Anak sekarang tidak lagi mereaksi begitu saja terhadap stimulus-stimulus melainkan nampak ada suatu aktivitas internal.

Anak mampu untuk berbuat pura-pura, artinya dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Ia mampu untuk menirukan tingkah laku yang dilihatnya (imitasi) dan apa yang dilihatnya sehari sebelumnya (imitasi tertunda).

Anak dapat mengadakan antisipasi, misalnya sekarang dapat mengatakan bahwa menaranya belum selesai, karena ia tahu menara yang bagaimana yang akan dibuatnya. Ia sekarang mampu untuk mengadakan representasi dunia pada tingkatan yang konkrit.

Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara persepsual, emosional-motivational, dan konseptual) untuk mengambil perspektif orang lain. Contoh: anak diajak kelapangan balap mobil. Dilapangan tadi ada 3 buah mobil merah, putih dan biru berjajaran. Bila anak diminta untuk menyebutkan urutan mobil tadi dari sudut pandangan orang lain yang berdiri di seberang sebaliknya, maka ia akan menjawab dari sudut perspektifnya sendiri.

Sumber :

https://cipaganti.co.id/bukalapak-pakai-kecerdasan-buatan-untuk-cegah-penipuan/