Kondisi dan situasi politik kerajaan-kerajaan di Indonesia

Kondisi dan situasi politik kerajaan-kerajaan di IndonesiaKondisi dan situasi politik kerajaan-kerajaan di Indonesia

Cikal bakal kekuasaan islam telah dirintis pada periode abad 1-5 H/ 7-8 M,tetapi semua tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan Majapahit di Jawa Timur. Pada periode ini para pedagang dan mubaligh muslim membentuk komunitas-komunitas islam. Mereka memperkenalkan islam yang mengajarkan toleransi dan kesamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, islam tersebar kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai.

Masuknya islam kedaerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Disamping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika datang islam juga berlainan. Pada abad ke-7 samapai ke-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal itu erat hubungannya dengan usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasioanl. Datangnya orang-orang muslim ke daerah itu sama sekalibelum memperhatikan dampak-dampak politik, karena mereka datang hanya memang untuk usaha pelayaran dan perdagangan. Keterlibatan orang-orang islam dalam bidang politik terlihat pada abad ke-9 M, ketika mereka terlibat dalam pemberontakan petani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan kaisar Hi-Tsung (878-889 M). Akibat pemberontakkan itu, kaum muslimin banyak yang dibunuh. Sebagian lainnya ke Kedah, wilayah yang masuk ke kuasaan Sriwijaya,bahkan ada yang ke Palembang dan membuat perkampungan Muslim disini. Kerajaan-kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang muslim di wilayah kekuasannya.

Dikerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah dikepulauan Nusantara mengakui berada dibawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah mada meninggal dunia (1364M) dan di susul Hayam Wuruk (1389M), situasi Majapahit kembali mengalami kegoncangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana Da Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan dikalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut. Pada tahun 1468M, Majapahit diserang Girindrawardhana dan Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis. Tome Pires (1512-1515 M), dalam tulisannya suma oriental, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya.

Munculnya pemukiman-pemukiman muslim di kota-kota Pesisir

Seperti disebutkan diatas, menjelang abad ke-13M, pesisir Aceh sudah ada pemukiman muslim. Persentuhan antara penduduk pribumi dengan muslim di Arab, Persia, dan India memang pertama kali terjadi di daerah ini. Karena itu, diperkirakan proses islamisasi sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa kerajaan islam pertama di kepulauan Nusantara ini berdiri di Aceh, yaitu kerajaan Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke-13    M, setelah kerajaan islam ini berdiri, perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan pada awal abad ke-15 M, didaerah ini lahir kerajaan islam kedua di Asia Tenggara. Kerajaan ini cepat berkembang, bahkan dapat mengambil alih dominasi pe;ayaran dan perdagangan dari kerajaan Samudra Pasai yang kalah bersaing. Lajunya perkembangan masyarakat muslim ini berkaitan erat dengan keruntuhan Sriwijaya.

Setelah Malaka jatuh ketangan Portugis (1511 M), mata rantai penting pelayaran beralih ke Aceh, kerajaan islam yang melanjutkan kejayaan Samudra Pasai. Dari sini, proses islamisasi di kepulauan Nusantara berlangsung lebih cepat dari sebelumnya. Untuk menghindari gangguan Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara waktu kapal-kapal pemilih berlayar menelusuri pantai Barat Sumatera. Aceh kemudian berusaha melebarkan kekuasannya ke Selatan sampai ke Pariaman dan Tiku. Dari pantai Sumatra, kapal-kapal memasuki selat Sunda menuju pelabuhan-pelabuhan dipantai Utara Jawa.

Berdasarkan berita Tome Pires(1512-1511), dalam suma orientalnya dapat diketahui bahwa daerah-daerah dibagian pesisir Sumatra Utara dan Timur selat Makala yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan islam. Akan tetapi, menurut berita itu, daerah-daerah yang belum islam juga masih banyak, yaitu palembang dan daerah-daerah perdalaman. Proses islamisasi kedaerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatra Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan ke-17M.

Sementara itu, di Jawa, proses islamisasi sudah berlangsung,sejak abad ke-11M, meskipun belum meluas,  terbukti dengan ditemukanya makan Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082M). Berita tentang islam di Jawa pada abad ke-11 dan 12 M memang masih sangat langka. Akan tetapi, sejak akhir abad ke-13M dan abad-abad berikutnya, terutama ketika Majapahit mencapai puncak  kebesarannya, bukti-bukti adanya proses islamisasi sudah banyak,dengan ditemukannya beberapa puluhan nisan kubur di Troloyo, Trowulan dan Gresik. Bahkan, menurut berita Ma-huan tahun 1416M, dipusat Majapahit maupun dipesisir, terutama dikota-kota pelabuhan, telah terjadi proses islamisasi dan sudah pula terbentuknya masyarakat muslim.


Baca juga: https://whypoll.org/aen-mad-hill-bike-apk/