jelaskan mengapa pki merupakan partai yang dilarang di indonesia

Awal Provokasi PKI di Bali 1965

Masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu, mereka memiliki fanatisme yang tinggi terhadap Presiden Pertama RI Soekarno yang dianggap memiliki darah Bali. Karena itu mereka juga memiliki ikatan yang kuat dengan partai politik yang didirikan Proklamator itu, yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI). Masyarakt Bali masih semi feodal di situ terdapat banyak puri (keraton) dan banyak pula para brahmana yang berada di berbagai pura. Selebihnya adalah masyarakat biasa. Komposisi penduduk yang feoalistik ini dengan sendirinya menjadi ajang kampanye yang empuk bagi PKI yang memperjuangkan persamaan kelas. Propaganda PKI ini sangat mengena di masyarakat yang merasa didiskriminasi oleh sistem keraton dan agama, sehingga mereka banyak yang masuk dalam barisan PKI. Bahkan beberapa di antara keluarga Puri yang menjadi anggota PKI, padahal partai ini berjuang melawan segala bentuk kraton. Kelompok ini dalam kenyataannya banyak benturan dengan kelompok PNI yang dianggap sebagai pendukung feodal.

· Provokasi PKI di Sumatera Utara 1956-1964

Sumatera Utara yang merupakan mayoritas Muslim, sejak Pemilu 1955 Posisi NU di kawasan ini sangat kuat, beberapa bupati dan pimpinan militer berasasl dari NU sehingga pada tahun 1956 NU menyelenggarakan Muktamar di kota yang sedang bergolak itu. Kesatuan TNI Dewan Gadjah yang dipimpin Kol. Maludin Simbolon memberontak terhadap pemerintah pusat, sehingga menimbulkan pergolakan bersenjata.
Setelah ada pembicaraan serius antara KH Idham Chalid dengan Simbolon, maka Muktamar bisa dijalankan dengan lancar. Rupanya Simbolon tidak mengusik NU, sebab yang dimusuhi Simbolon hanya Ali Sastroamidjoyo beserta partainya yaitu PNI. Medan menjadi basis PKI, di pulau ini terutama setelah terjadinya pemberontakan Simbolon dan PRRI berlangsung. Operasi pembasmian pemberontakan Simbolon dan PRRI oleh TNI yang banyak berasal dari unsur kiri, terutama dari kelompok Merapi- Merbabu Compleks sempat dikirim ke daerah ini. Kelompok itu merupakan penggerak PKI di daerah tersebut, sehingga posisi PKI makin kuat.
Sementara NU mulai menguat di daerah itu dengan munculnya tokoh besar seperti H Zainul Arifin seorang Wakil Perdana Menteri, H. Djamaluddin Tarigan (DPR-GR), serta H Nuddin
Lubis, ketua Konsul NU Sumetera Utara yang kemudian diangkat sebagai anggota DPR GR dan pengurus PBNU. Pada saat yang bersamaan PKI juga mulai tumbuh pesat setelah penaklukan pemberontakan Simbolon. Tokoh yang muncul antara lain Jusuf Adji Torop Simandjuntak (CC PKI), Amat Johar Nuri, Makmun Duana (DPRGR) dan Kusniawati (Gerwani) juga seorang tokoh Sobsi bernama Bebas Pakpahan. Daerah yang paling pesat
perkembangan PKI-nya adalah Langkat dan Labuhan Batu karena di sana terdapat perkebunan besar, yang menjadi sarangnya Sobsi dan Pemuda rakyat serta BTI.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/