Cairan Serebrospinalis

Cairan Serebrospinalis

Merupakan cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau yang terdapat dalam ventrikel dan mengelilingi otak serta medulla spinalis (spinal cord). Berfungsi sebegai peredam bantingan dan bantalan otak dan spinal cord terhadap perlukaan akibat gerakan

Komponen:

Air, sejumlah kecil protein, oksigen dan CO2. Elektrolit seperti natrium, klorida. Glukosa dan kadang-kadang limfosit. Tekanan normal 60 – 180 mmH20.

Sirkulasi cairan serebro spinalis Sering disebut sirkulasi ke 3 sistem tertutup :

  1. Cairan serebra spinalis dibentuk dalam kedua ventrikel lateral.
  2. Masuk ke ventrikel ke-3 melalui foramen montro.
  3. Masuk ke ventrikel ke-4 melalui aquaduktus sylvii.
  4. Masuk ke ruang sub arakhnoid otak danmedulla spinalis melalui sepasang foramen Lucchca di bagian lateral dan foramen Magendi di bagian medial.

Jaringan Saraf

  1. Neuron (sel saraf)

Merupakan unit anatomis dan fungsional sistem persarafan
bagian-bagian dari neuron :

–    Badan sel (inti sel terdapat didalamnya)

–    Dendrit : menghantarkan impuls menuju badan sel

–    Akson : menghantarkan impuls keluar dari badan sel

Klasifikasi neuron berdasarkan bentuk :

  1. Neuron unipolar

Terdpt satu tonjolan yg bercabang dua dekat dengan badan sel, satu cabang menuju perifer & cabang lain menuju SSP (neuron sensorik saraf spinal).

  1. Neuron bipolar

Mempunyai dua tonjolan, 1 akson dan 1 dendrit.

  1. Neuron multipolar

Terdpt beberapa dendrit dan 1 akson yg dapat bercabang-cabang banyak sekali. Sebagian besar organela sel pd neuron terdpt pada sitoplasma badan sel. Fungsi neuron : menghantarkan impuls saraf keseluruh tubuh (somatik dan viseral).

Impuls neuron bersifat listrik disepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron (celah sinap / cleft sinaptik). Zat kimia yg disinteis neuron & disimpan didalam vesikel ujung akson disebut neurotransmiter yang dapat menyalurkan impuls. Contoh neurotransmiter : asetilcolin, norefineprin, dopamin, serotonin, gama-aminobutirat (GABA)

  1. Sel penyokong (Neuroglia pada SSP & sel schwann pada SST). Ada 4 neuroglia

–    Mikroglia : berperan sbg fagosit.

–    Ependima : berperan dlm produksi CSF.

– Astrosit : berperan menyediakan nutrisi neuron dan mempertahankan potensial biolelektrik.

–    Oligodendrosit : menghasilkan mielin pd SSP yg merupakan selubung neuron.

  1. Mielin

–    Komplek protein lemak berwarna putih yg menutupi tonjolan saraf (neuron)

–    Menghalangi aliran ion Na & K melintasi membran neural.

–    Daerah yg tidak bermielin disebut nodus ranvier

–    Transmisi impuls pd saraf bermelin lebih cepat dari pada yg tak bermelin, karena adanya loncatan impuls dari satu nodus kenodus lainnya (konduksi saltatorik)

  1. Mekanisme Penghantaran Impuls

Membran plasma dan selubung sel membentuk membran semipermeabel yang memungkinkan difusi ion-ion tertentu melalui membran ini, tetapi menghambat ion lainnya. Dalam keadaan istirahat (keadaan tidak terstimulasi), ion-ion K+ berdifusi dari sitoplasma menuju cairan jaringan melalui membran plasma. Permeabilitas membran terhadap ion K+ jauh lebih besar daripada permeabilitas terhadap Na+ sehingga aliran keluar (efluks) pasif ion K+ jauh lebih besar daripada aliran masuk (influks) Na+. Keadaan ini memngakibatkan perbedaan potensial tetap sekitar -80mV yang dapat diukur di sepanjang membran plasma karena bagian dalam membran lebih negatif daripada bagian luar. Potensial ini dikenal sebagai potensial istirahat (resting potential). (Snell. 2007).

Bila sel saraf dirangsang oleh listrik, mekanik, atau zat kimia, terjadi perubahan yang cepat pada permeabilitas membran terhadap ion Na+ dan ion Na+ berdifusi melalui membran plasma dari jaringan ke sitoplasma. Keadaan tersebut menyebabkan membran mengalami depolarisasi. Influks cepat ion Na+ yang diikuti oleh perubahan polaritas disebut potensial aksi, besarnya sekitar +40mV. Potensial aksi ini sangat singkat karena hanya berlangsung selama sekitar 5msec. Peningkatan permeabilitas membran terhadap ion Na+ segera menghilang dan diikuti oleh peningkatan permeabilitas terhadap ion K+ sehingga ion K+ mulai mengalir dari sitoplasma sel dan mengmbalikan potensial area sel setempat ke potensial istirahat.

Potensial aksi akan menyebar dan dihantarkan sebagai impuls saraf. Begitu impuls menyebar di daerah plasma membran tertentu potensial aksi lain tidak dapat segera dibangkitkan. Durasi keadaan yang tidak dapat dirangsang ini disebut periode refrakter. Stimulus inhibisi diperkirakan menimbulkan efek dengan menyebabkan influks ion Cl- melalui membran plasma ke dalam neuron sehingga menimbulkan hiperpolarisasi dan mengurangi eksitasi sel. (Snell. 2007)

Sumber: https://officialjimbreuer.com/