Aspek-aspek Nasionalisme

Aspek-aspek Nasionalisme

Aspek-aspek Nasionalisme
Aspek politik

Nasionalisme bersifat  menumbangkan dominasi politik imperialisme dan bertujuan menghapus pemerintah kolonial.
b.  Aspek Sosial Ekonomi
Nasionalisme bersifat menghilangkan kesenjangan sosial yang diciptakan oleh  pemerintah  kolonial  dan  bertujuan  menghentikan  eksploitasi ekonomi.
c.  Aspek Budaya
Nasionalisme  bersifat  menghilangkan  pengaruh  kebudayaan  asing  yang buruk  dan  bertujuan  menghidupkan  kebudayaan  yang  mencerminkan harga diri bangsa setara dengan bangsa lain.

5.  Makna Nasionalisme
Istilah  nasionalisme  digunakan  dala  rentang  arti  yang  kita  gunakan sekarang.  Diantara  penggunaan  –  penggunaan  itu,  yang  paling  penting adalah :
a.  Suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa-bangsa.
b.  Suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa bersangkutan.
c.  Suatu bahasa dan simbolisme bangsa.
d.  Suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan.
e.  Suatu  doktrin  dan/atau  ideologi  bangsa,  baik  yang  umum  maupun  yang khusus Nasionalisme  merupakan  sebuah  penemuan  sosial  yang  paling menakjubkan  dalam  perjalanan  sejarah  manusia,  paling  tidak  dalam  seratus tahun  terakhir.  Tak  ada  satu  pun  ruang  sosial  di  muka  bumi  yang  lepas  dari pengaruh ideologi ini. Tanpa  nasionalisme,  lajur sejarah  manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya perang dingin dan semakin merebaknya  gagasan dan budaya  globalisme  (internasionalisme)  pada  dekade 1990-an  hingga  sekarang, khususnya  dengan  adanya  teknologi  komunikasi  dan  informasi  yang berkembang  dengan  sangat  akseleratif,  tidak  dengan  serta-merta  membawa lagu kematian bagi nasionalisme.
Kaca  mata etnonasionalisme  ini  berangkat  dari  asumsi  bahwa  fenomena nasionalisme telah eksis sejak manusia mengenal konsep  kekerabatan biologis. Dalam  sudut  pandang  ini,  nasionalisme  dilihat  sebagai  konsep  yang  alamiah berakar  pada  setiap  kelompok  masyarakat  masa  lampau  yang  disebut  sebagai ethnie (Anthony Smith,  1986),  suatu  kelompok  sosial yang  diikat  oleh  atribut kultural meliputi memori kolektif, nilai, mitos, dan simbolisme.
Nasionalisme  lebih  merupakan  sebuah  fenomena  budaya  daripada fenomena  politik  karena  dia  berakar  pada  etnisitas  dan  budaya  pramodern. Kalaupun  nasionalisme  bertransformasi  menjadi  sebuah  gerakan  politik,  hal tersebut  bersifat  superfisial  karena  gerakan-gerakan  politik  nasionalis  pada akhirnya  dilandasi  oleh  motivasi  budaya,  khususnya  ketika  terjadi  krisis identitas  kebudayaan.  Pada  sudut  pandang  ini,  gerakan  politik  nasionalisme adalah sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun  sebuah  negara  berdasarkan  kesamaan  budaya  (John  Hutchinson, 1987).
Perspektif etnonasionalisme  yang  membuka  wacana  tentang  asal-muasal nasionalisme berdasarkan hubungan kekerabatan dan kesamaan budaya. Bahwa  nasionalisme  adalah  penemuan  bangsa  Eropa  yang  diciptakan untuk mengantisipasi  keterasingan  yang merajalela dalam  masyarakat  modern (Elie  Kedourie,  1960).    Nasionalisme  memiliki  kapasitas  memobilisasi  massa melalui  janji-janji  kemajuan  yang  merupakan  teleologi  modernitas.
Nasionalisme  dibentuk  oleh  kematerian  industrialisme  yang  membawa perubahan  sosial  dan  budaya  dalam  masyarakat.  Nasionalismelah  yang melahirkan bangsa. Nasionalisme berada  di titik persinggungan antara politik,  teknologi, dan transformasi sosial.
Pemahaman  komprehensif  tentang  nasionalisme  sebagai  produk modernitas  hanya  dapat  dilakukan  dengan  juga  melihat  apa  yang  terjadi  pada masyarakat  di  lapisan  paling  bawah  ketika  asumsi,  harapan,  kebutuhan,  dan kepentingan  masyarakat  pada  umumnya  terhadap  ideologi  nasionalisme memungkinkan  ideologi  tersebut  meresap  dan  berakar  secara  kuat  (Eric Hobsbawm, 1990).
Nasionalisme  hidup  dari  bayangan  tentang  komunitas  yang  senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Imagined  Communities,  Anderson  berargumen  bahwa  nasionalisme masyarakat pascakolonial  di Asia dan Afrika merupakan  hasil emulasi dari apa yang telah disediakan oleh sejarah nasionalisme di Eropa.

sumber :

https://rhydianroberts.com/sd-maid-pro-apk/