Aku Bukan Apa-apa, Hanya Sepertinya Punya

Aku Bukan Apa-apa, Hanya Sepertinya Punya

Aku Bukan Apa-apa, Hanya Sepertinya Punya
Aku Bukan Apa-apa, Hanya Sepertinya Punya

Aku itu bukan apa-apa, boleh dianggap sebagai sebuah pengakuan.

Karena memang faktanya. Aku hanya manusia biasa yang diciptakan-Nya. Maka aku, bukan apa-apa, bahkan pula bukan siapa-siapa. Lalu, kenapa aku harus seperti apa-apa? Sepertinya berkuasa atas apa-apa, lalu ingin menguasai apa dan siapa? Sungguh, sama sekali tidak perlu apa-apa bila hanya di dunia.
Seperti kata almarhum Ust. Arifin Ilham. Katanya manusia itu kayaknya punya, kayaknya berkuasa, kayaknya hidup. Sebenarnya hanya kayaknya saja. Tapi sebenarnya tidak punya apa-apa.
Aku itu bukan apa-apa. Manusia lainnya pun bukan apa-apa. Selagi udara yang dihirupnya gratis. Selagi bumi yang diinjaknya tidak bayar. Selagi sinar matahari yang dirasanya pun tidak mampu dibeli. Karena aku ada di sini semuanya gratis, tanpa bayar sedikitpun. Hebatnya, tanpa ada protes dari sang empunya, Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa ada dendam sedikitpun dari alam semesta yang megah. Maka, aku bukan apa-apa.

Katakan saja, aku, saya, atau gue.

Itu semua hanya sapaan dan sebutan untuk diri sendiri. Manusia sering lupa. Bahwa ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Tapi sayang, kadang manusia sering merasa benar, sering merasa besar. Hanya karean pangkat, harta, atau jabatan. Manusia sering lupa. Bahwa semua yang ada hanyalah titipan, bukan miliknya. Akan ada batas akhirnya. Lagi-lagi, aku bukan apa-apa. Karena aku ada dalam naungan yang membesarkannya.

aku4.jpg

Aku bukan apa-apa, selagi masih meminta

Lalu, mengapa manusia sering meng-aku-kan diri?
Mungkin karena aku sering mengatur diri sendiri, padahal ada yang membimbingnya. Atau Aku sering memerintah diri sendiri, padahal ada yang mendaulatnya. Kadang aku sering mencukupi diri sendiri, padahal ada yang memeliharanya. Atau aku sering mensuplai diri sendiri, padahal ada yang menggantungkannya. Kadang aku sering berkehendak sendiri, padahal ada yang menundukkannya. Bahkan aku sering menjalani diri sendiri, padahal ada yang mempercayainya. Lalu, kenapa aku gemar menyalahkan orang lain sambil berkehendak meralat hukum-hukum-Nya. Tolong bantu aku, siapakah aku ini bila bukan apa-apa?

 

 

Sumber :

https://www.belajarbahasainggrisku.id/