Zaman Bercocok Tanam

Zaman Bercocok Tanam

Kelompok-kelompok kecil pada era bercocok tanam tambah bertambah
besar, dikarenakan masyarakat udah terasa menetap dan hidup lebih teratur.
Kelompok-kelompok perkampungan tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan
yang lebih besar seandainya klan, marga dan sebagainya yang menjadi dasar
masyarakat Indonesia sekarang.

Kehidupan masyarakat menjadi tambah kompleks sesudah mereka tidak
saja tinggal di goa-goa, tetapi juga manfaatkan lahan-lahan terbuka
sebagai daerah tinggal. Dengan bertempat tinggal menetap mereka
mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk mengembangkan
teknologi pembuatan alat berasal dari batu. Perubahan cara hidup berasal dari mengembara
ke menetap akhirnya berpengaruh pada aspek-aspek kehidupan
lainnya. Cara hidup berburu dan meramu secara berangsur-angsur mulai
ditinggalkan. Mereka memasuki tahapan baru yakni bercocok tanam ini
merupakan momen penting di dalam peristiwa perkembangnan dan peradaban
manusia. Dengan penemuan-penemuan baru, mereka dapat menguasai
alam, khususnya yang terkait langsung dengan keperluan hidup
mereka. Ada jenis-jenis tumbuhan terasa dibudidayakan dan bermacammacam
binatang terasa dijinakkan.

Dengan perkembangannya cara bercocok tanam dan bertani, berarti
banyak perihal yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas selanjutnya yang
tidak kemungkinan dapat dipenuhi sendiri. Kondisi inilah yang kemudian
mendorong timbulnya kelompok-kelompok spesialis atau undagi, misalnya
kelompok pakar pembuatan rumah, pembuatan gerabah, dan pembuatan
alat-alat logam.
Gambar: Manusia purba sedang membawa dampak alat
Sumber: Nugroho Notosusanto (1992: 20)
Pada tahapan berikutnya, aktivitas pertanian membutuhkan
satu organisasi yang lebih luas yang berfungsi untuk
mengelola dan menyesuaikan aktivitas pertanian tersebut. Dari
organisasi itu sesudah itu menumbuhkan organisasi masyarakat
yang berwujud chiefdoms atau masyarakat yang sudah
berkepemimpinan. Dalam masyarakat yang demikian itu
sudah dapat dibedakan antara pemimpin dan yang dipimpin.
Pengakuan pada pemimpin tidak sekadar dikarenakan faktor
keturunan, tetapi juga dianggap membawa kebolehan yang
lebih dan berkedudukan tinggi. Para pemimpin tersebut
sesudah meninggal arwahnya tetap dihormati karena
kelebihan yang dimilikinya itu. Untuk menghargai sang
arwah, dibangunlah tempat-tempat pemujaan layaknya tampak
pada peninggalan-peninggalan punden berundak. Selain dapat
menunjukan daerah pemujaan arwah, keberadaan punden
berundak juga dapat menjadi bukti ada masyarakat yang sudah
berkepemimpinan. Punden berundak merupakan bangunan tempat
melakukan upacara bersama. Dalam melaksanakan upacara itu, juga
dipimpin oleh seorang pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya.
Pada era itu tersedia kemungkinan udah terbentuk desa-desa kecil. Pada
mulanya cuma bentuk rumah agak kecil dan berdenah melingkar dengan
atap daun-daunan. Kemudian rumah layaknya itu berkembang dengan bentuk
yang lebih besar yang dibangun di atas tiang penyangga. Rumah besar ini

Artikel Lainnya : https://tutorialbahasainggris.co.id/motivation-letter-5-cara-dan-contoh-membuat-motivation-letter-bahasa-inggris/

bentuknya persegi panjang, dihuni oleh beberapa keluarga inti.
Di bawah tiang penyangga rumah digunakan untuk memelihara
ternak. Apabila musim panen tiba mereka berganti sementara
di dekat ladang-ladang dengan membangun rumah atau gubukgubuk
darurat. Binatang-binatang piaraan mereka juga dibawa.
Tidak kemungkinannya sangat kecil pada era itu, mereka udah menggunakan
bahasa untuk komunikasi. Para pakar menduga bahwa pada masa
bercocok tanam menetap ini, mereka udah menggunakan
bahasa Melayu-Polenesia atau rumpun bhs Austronesia.
Pada era bercocok tanam terasa terlihat kelompok-kelompok
profesi, pertalian perdagangan, dan ada kontak-kontak
budaya membawa dampak aktivitas masyarakat tambah kompleks.
Situasi semacam itu tidak saja perlihatkan ada pelapisan
masyarakat menurut kehlian dan pekerjaannya tetapi juga
Gambar: Rumah pada era purba mendorong perkembangan teknologi yang mereka kuasai.

Baca Juga :