Minat Pelajar SMA Ke Museum Siwalima Menurun

Minat Pelajar SMA Ke Museum Siwalima Menurun

Minat Pelajar SMA Ke Museum Siwalima Menurun
Minat Pelajar SMA Ke Museum Siwalima Menurun

Minat pelajar SMA untuk berkunjung ke Museum negeri Siwalima Ambon selama setahun

terakhir menurun, dengan jumlah kunjungan yang jauh dari target.

“Minat anak-anak SMA kita untuk ke museum sedang mengalami penurunan. Saya membandingkan data kunjungan tahun 2015 dengan setahun terakhir, perbedaannya cukup besar,” kata Kepala Museum Siwalima Jean Esther Saija, di Ambon, Kamis (2/3).

Ia mengatakan dibandingkan dengan tahun 2015 yang jumlah kunjungannya mencapai 1.500 orang, total kedatangan pelajar SMA ke Museum Siwalima pada 2016 sangat sedikit, hanya seperdua dari tahun 2015, yakni 754 orang.

Jumlah tersebut bahkan jauh di bawah total kunjungan siswa SD yang mencapai 3.352 orang

, siswa TK sebanyak 3.265 orang, dan SMP berjumlah 1.858 orang.

Tercatat angka kunjungan siswa SMA ke Museum Siwalima selama tahun 2016, terbanyak hanya pada Mei, yakni 201 orang, dan 114 orang pada Oktober.

Sedangkan kunjungan paling sedikit terjadi pada Agustus, hanya sembilan orang yang pernah datang ke museum, menyusul Maret dengan 12 orang, dan Juni dengan 20 orang.

“Memang sekarang museum harus bersaing dengan mall. Anak-anak kita

lebih senang ke mall, padahal di sana mereka hanya menghabiskan uang tanpa ada pengetahuan yang diterima,” imbuhnya.

Menurut Jean, turunnya minat kunjungan ke Museum Siwalima menjadi tantangan bagi pihaknya untuk lebih berinovasi dan berkreasi dengan ide-ide yang lebih kreatif, salah satunya membuat program pameran yang bisa menggabungkan antara belajar sambil bermain.

“Kami perlu memperbaiki diri dengan inovasi-inovasi baru, sehingga ketika anak-anak datang ada hal-hal menarik yang bisa mereka dapatkan, dan mengubah pola pikir mereka bahwa museum tempat yang tidak menarik, hanya ada bangunan dan koleksi-koleksi tua,” ucapnya.

Selanjutnya, kata Bambang, ada juga model lain cara menghimpun dana masyarakat bukan berupa uang tetapi barang dengan sistim Multi Level Marketing/MLM.

“Sebenarnya model sistim MLM, sudah diatur dalam Ketentuan dan Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, sehingga boleh melakukan penjualan langsung melalui sistim MLM, tetapi barang yang ditawarkan harus jelas, harganya wajar dan lokasi usaha atau jaringan kantor harus jelas,” pintanya.

Namun, kadang-kadang ada yang memanfaatkan dengan sistim MLM, yang memasarkan barang yang nilainya sangat mahal, jauh diatas harga pasar, juga tidak mempunyai izin usaha penjualan langsung dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.

 

Baca Juga :