HAN, Momentum Bentengi Anak dari Radikalisme

HAN, Momentum Bentengi Anak dari Radikalisme

HAN, Momentum Bentengi Anak dari Radikalisme
HAN, Momentum Bentengi Anak dari Radikalisme

Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati tiap 23 Juli, hendaknya menjadi momentum

untuk membentengi anak dari radikalisme, perlakuan yang salah, penelantaran, narkoba, dan pornografi. Pasalnya anak telah menjadi objek utama dalam penyebaran radikalisme dan perlakuan negatif lainnya.

“Intinya perlindungan anak sebetulnya sudah menjadi agenda dan prioritas pembangunan nasional sehingga idealnya anak terlindungi dari radikalisme, perlakuan negatif, juga bahaya narkoba. Namun, faktanya, radikalisme yang melibatkan anak-anak terus terjadi, juga kekerasan terhadap anak. Terbukti dari rilis dari lembaga perlindungan anak, data-data keterlibatan anak dalam radikalisme dan lain-lain terus meningkat,” ujar mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Advianti, dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Rabu (24/7/2019).

Untuk itu, ia mengajak semua pihak agar HAN dijadikan momentum untuk lebih

serius membentengi anak dari penyebaran radikalisme. Ini penting karena meski sudah ada peraturan perundangan yang ideal tentang perlindungan anak, faktanya radikalisme dan kekerasan yang menyasar anak-anak terus terjadi, bahkan cenderung meningkat. Itu menjadi bukti bahwa ada kesenjangan dalam implementasi pelaksanaan perundangan tersebut. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama yang harus mendapat prioritas baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Ia menjelaskan, anak memang menjadi objek yang sangat mudah terpapar radikalisme karena anak sangat mudah menyerap doktrin. Selain itu, anak cenderung lebih loyal dari orang dewasa sehingga mudah menjadi radikal.

Menurut Maria, banyak faktor yang membuat anak rentan terjangkit radikalisme.

Namun, yang utama adalah faktor keluarga dan institusi pendidikan. Ini terbukti banyak anak-anak yang terpapar radikalisme melalui online dan institusi seperti kasus bom bunuh diri di Surabaya dan Sibolga, juga anak-anak yang terdapat dalam video propangada ISIS yang tersebar di media sosial (medsos) seperti Youtube.

Pada kasus-kasus anak-anak terpapar radikalisme, jelas Maria, mereka rata-rata terjangkiti virus radikalisme dari keluarga atau orang terdekat, serta guru di sekolah. Artinya anak-anak akan mudah percaya dengan orang terdekat sehingga sangat mudah terpapar ajaran tersebut.

 

Sumber :

https://41914110003.blog.mercubuana.ac.id/sejarah-bandung-jawa-barat/