Pengelola Pustaka Kabanti Kendari Ingin Perpustakaannya Bermanfaat Bagi Masyarakat

Pengelola Pustaka Kabanti Kendari Ingin Perpustakaannya Bermanfaat Bagi Masyarakat

Pengelola Pustaka Kabanti Kendari Ingin Perpustakaannya Bermanfaat Bagi Masyarakat
Pengelola Pustaka Kabanti Kendari Ingin Perpustakaannya Bermanfaat Bagi Masyarakat

Kemendikbud — Perpustakaan Pustaka Kabanti Kota Kendari Sulawesi Tenggara hari itu,

Sabtu (12/5/2018) ramai dipenuhi para penyair dari Kendari dan sekitarnya. Pustaka Kabanti hari itu menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bernama Panggung Penyair Kabanti. Pengelola perpustakaan tersebut, Syaifuddin Gani, ingin perpustakaanya bermanfaat bagi masyarakat dengan kegiatan-kegiatan literasinya.

Pustaka Kabanti berdiri di atas tanah seluas 14 x 8 meter itu, menjadi bagian dari rumah pribadi Syaifuddin Gani, beralamatkan di perumahan BTN Tawang Alun 2 Kelurahan Padaleu Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penamaan “Kabanti” itu diambil dari syair yang dinyanyikan di masyarakat Buton. Kabanti ada yang tertulis yang menjadi khazanah naskah di dalam keraton Kesultanan Buton (Wolio) dan ada juga yang hidup di tengah masyarakat sebagai tradisi lisan. “Dari sanalah, saya menggunakan nama Pustaka Kabanti untuk menghargai salah satu kesusastraan dari Buton,” kata Syaifuddin.

Melalui perpustakaan yang dikelolanya, Syaifuddin Gani berharap ingin melibatkan

masyarakat sekitar untuk mengakses buku koleksinya dan ingin sastrawan di Sulawesi Tenggara mengakses buku sastra serta belajar dari ribuan koleksinya. “Selain itu dapat menjadi salah satu titik pertemuan dan dialektika berkomunitas serta Pustaka Kabanti dapat menyelenggarakan kegiatan sastra yang bermarwah,” kata pria yang akrab dipanggil Om Puding tersebut.

Salah satu keistimewaan Pustaka Kabanti adalah koleksi buku sastra Sulawesi Tenggara baik berupa buku baru atau buku lama, antologi tunggal atau bersama. Selain buku, Pustaka Kabanti juga mengoleksi majalah, jurnal, dan buletin sastra yang memuat karya sastrawan Sulawesi Tenggara. “Jika ada yang berniat meneliti atau mencari data mengenai sastra Sulawesi Tenggara, yang terdiri atas puisi cerpen, novel, drama, atau naskah lama bisa ke Pustaka Kabanti sebagai salah satu rujukannya,” kata pria yang bekerja di Kantor Bahasa di Sulawesi Tenggara tersebut.

Untuk publikasi perpustakaan, ia menggunakan berbagai kanal media sosial, seperti Facebook,

blog, Instagram, pos-el (email), Twitter, dan Youtube. Ia juga membuat program regular untuk menunjukkan eksistensi sebuah komunitas, yaitu kegiatan menulis. “Jadi anak-anak yang tinggal di kompleks sini, kita ajak bergabung menulis sambil bermain, menulis sambil bermain dengan buku-buku yang ada di perpustakaan. Saya bagikan buku tulis kepada anak-anak terus belajar menulis di antaranya menulis puisi, menulis cerita remaja, bahkan ada yang menggambar,” ujarnya.

Ia mendorong anak-anak sekitarnya untuk menulis, terutama puisi. Karya-karya anak-anak tersebut ia tulis kembali di beragam media sosial. “Ketika diunggah dan dibagi, teman-teman mereka bisa membacanya, orang tuanya, dan gurunya, bahkan pembaca yang tak dikenal di dunia maya yang tak bertepi. Ada beberapa karya mereka yang menjadi perbincangan hangat di sekolahnya,” kata peneliti sastra tersebut.

Ia juga bekerja agar Pustaka Kabanti bisa menjadi taman bacaan yang mendorong proses berliterasi dan dapat mengantar buku ke berbagai tempat di Kendari bersama Roda Pustaka Kabanti, yaitu sebuah pustaka bergerak. “Saya berharap perpustakaan yang berisi koleksi satra, budaya, dan filsafat ini dapat diakses secara luas dan di sini aktif melakukan penulisan dan penelitian untuk pengembangan serta mobilitas pengetahuan dan kebudayaan. Mengangkat khazanah lokalitas Sulawesi Tenggara juga menjadi visi saya,” kata Syaifuddin yang pernah ikut diundang bersama puluhan penggiat literasi lainnya oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara tanggal 2 Mei 2017 lalu. (Irianto H Sitompul / Nur Widiyanto)

Sumber :

https://riviste.unimi.it/index.php/test03/comment/view/10097/73956/101125