Rawat Kebhinekaan, Mahasiswa Siskal ITS Ujian Pakai Baju Adat

Rawat Kebhinekaan, Mahasiswa Siskal ITS Ujian Pakai Baju Adat

Rawat Kebhinekaan, Mahasiswa Siskal ITS Ujian Pakai Baju Adat
Rawat Kebhinekaan, Mahasiswa Siskal ITS Ujian Pakai Baju Adat

Ada pemandangan berbeda pada pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) di Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kamis (7/6). Saat ujian mata kuliah Desain 4, mahasiswa semester akhir Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) wajib mengenakan busana adat daerah dari seluruh Indonesia.

Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS Dr Eng M Badrus Zaman menjelaskan, tujuan pertama mewajibkan memakai busana daerah adalah melatih mahasiswa untuk menerima keberagaman dan bermental Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, saat mahasiswa lulus dan terjun secara langsung ke masyarakat diharapkan bisa lebih memahami Indonesia secara utuh. Serta memahami keberagaman yang ada di masyarakat.

“Negara kita membutuhkan generasi-generasi yang siap menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika,

sehingga diharapkan dari pakaian daerah yang mereka kenakan ini mereka dapat lebih mencintai tanah air dan mampu menyumbangkan karya mereka kepada Indonesia,” jelas Badrus.

Kewajiban mengenakan kostum tematik saat ujian ini merupakan tradisi yang sudah lama berjalan di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS. Dimulai sejak tahun 2003 dan hingga saat ini masih terus dipertahankan. Bahkan, peserta ujian juga pernah diwajibkan mengenakan kostum superhero untuk memperingati Hari Pahlawan.

“Kami sesuaikan setiap semester untuk tema pakaiannya dan kebetulan kali ini bertepatan dengan momen Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Oleh sebab itu kami sung tema kebhinnekaan ini,” tambahnya.

Badrus juga memaparkan, di Siskal ini terdapat empat mata kuliah bidang desain kapal.

Ujian Desain 4 merupakan ujian final bagi para mahasiswa semester akhir di departemen ini. “Bobot ujian Desain 4 ini sama seperti Tugas Akhir (TA). Sehingga diharapkan nanti mahasiswa memahami seluruh sistem yang ada di kapal,” papar Badrus.

Lebih lanjut Badrus menerangkan, ujian dengan sistem presentasi itu mengujikan sistem pelumasan, sistem perpipaan, sistem kelistrikan, navigasi dan sistem pendingin yang ada di dalam sebuah kapal. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana merancang sistem sebuah kapal.

Untuk tahun ini, ujian diadakan secara berkelompok atau tim. Sebanyak 80 mahasiswa dibagi menjadi dua, sehingga satu tim terdiri dari dua orang.

Tiap kelompok menghadap seorang dosen penguji dan memresentasikan desain sistem

perkapalan rancangan mereka. Bagi mahasiswa program Double Degree, harus memresentasikan rancangannya dalam bahasa Inggris. Busana adat yang mereka kenakan sangat bervariasi, ada yang mengenakan pakaian adat Betawi, Dayak, Jawa Timur-an, Madura, Makassar dan bahkan juga ada yang mengenakan Kencongan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan oleh anak-anak.

Sementara itu, Rohmatus Shifa, salah seorang mahasiswi semester 6 mengaku, awalnya sedikit kerepotan saat mengenakan busana adat Jawa ini. Namun, dengan berbalut kebaya modern ungu dan mengenakan bawahan kain serta jilbab yang selaras, ia malah merasa lebih nyaman dengan suasana ujian yang terkesan tidak terlalu formal seperti ini.

“Biasanya kan tegang kalau ujian, tapi dengan berpakaian seperti ini kita bisa lebih menjiwai dan lebih santai,” tutur mahasiswi asal Mojokerto ini.

 

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/kata-penghubung/