Definisi dan Pengertian Warisan atau Ahli Waris

Definisi dan Pengertian Warisan atau Ahli Waris

Warisan berasal dari bhs Arab Al-miirats, di dalam bhs arab merupakan bentuk masdar (infinititif) dari kata waritsa- yaritsu- irtsan- miiraatsan. Artinya menurut bhs adalah ‘berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain’. Atau dari suatu kaum kepada kaum lain.

Pengertian warisan, adalah berpindahnya hak dan kewajiban atas segala sesuatu baik harta maupun tanggungan dari orang yang sudah meninggal dunia kepada keluarganya yang masih hidup. “Dan untuk tiap-tiap (laki-laki dan perempuan) Kami sudah mengambil keputusan para pakar waris atas apa vang ditinggalkan oleh ke-2 orang tuanya dan karib kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu sudah bersumpah setia bersama mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. 4/An-Nisa’: 33)

Pewaris dan Dasar Hukum Mewaris
Pewaris merupakan orang yang meninggal dunia, baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta benda maupun tanggungan atau hak-hak yang diperoleh selama hidupnya, baik bersama surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. Adapun yang menjadi dasar hak untuk mewaris atau dasar untuk mendapat anggota harta peninggalan menurut Al-Qur’an yaitu:

Karena jalinan darah, ini di memastikan secara jelas di dalam QS. An-Nisa: 7, 11, 12, 33, dan 176.
Hubungan pernikahan.
Hubungan persaudaraan, dikarenakan agama yang di memastikan oleh AL- Qur’an bagiannya tidak lebih dari sepertiga harta pewaris (QS. Al-Ahzab: 6).
Hubungan kerabat dikarenakan sesame hijrah pada permulaan pengembangan Islam, meskipun tidak ada jalinan darah (QS. Al-Anfal: 75).

Masalah Warisan
Masalah-masalah yang ada di dalam warisan di antaranya yaitu:

a. Al-Gharawain atau Umariyatain ada dua barangkali yaitu :

Jika seseorang yang meninggal dunia cuma meninggalkan pakar waris (ahli waris yang di tinggal): Suami, ibu dan Bapak.
Jika seseorang yang meninggal dunia cuma meninggalkan pakar waris (ahli waris yang tinggal): Istri, ibu, dan bapak.
b. Al-Musyarakah (disyariatkan) di artikan terhitung bersama himariyah (keledai), Hajariyah (batu). Persoalan Al-Musyarakah ialah khusus untuk selesaikan masalah kewarisan antara saudara seibu (dalam perihal saudara seibu laki-laki dan perempuan mirip saja) bersama saudara laki-laki seibu sebapak, untuk lebih jelasnya mampu di kemukakan bahwa masalah Al-Musyarakah ini berjalan kalau pakar waris cuma terdiri dari: Suami, ibu atau nenek, sdr seibu lebih dari 1 , dan saudara seibu sebapak.

c. Masalah datuk bersama saudara Dalam perihal masalah datuk bersama saudara ini, yang dimaksud bersama saudara di sini adalah :
1. Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu sebapak.
2. Saudara laki sebapak dan saudara perempuan sebapak.
Persoalan untuk datuk bersama saudara ini ada dua macam, yaitu :
1. Ahli waris yang tinggal, setelah selesai tahap hijab cuma terdiri dari datuk dan saudara saja.
2. Shahibul fardh(ahli waris yang sudah khusus porsi baginya).

d. Aul Aul menurut bhs (etimologi) berarti irtifa’ :mengangkat. Kata aul ini sering kadang condong kepada perbuatan aniaya (curang). Secara istilah aul merupakan bertambahnya saham dzawil furudh dan berkurangnya takaran penerimaan warisan mereka. Atau bertambahnya kuantitas anggota yang di memastikan dan berkurangnya anggota tiap-tiap waris. Terjadinya masalah aul ialah kalau berjalan angka pembilang lebih besar dari angka penyebut (misalnya 8/6), tetapi umumnya harta senantiasa dibagi bersama penyebutnya, tapi kalau perihal ini dilaksanakan akan berjalan kesenjanagn pendapatan, dan sekaligus menyebabkan persoalan, yaitu siapa yang lebih ditutamakan daripada pakar waris tersebut.

e. Radd Kata Radd secara bhs (etimologi) yang berarti I’aadah: mengembalikan. Mengembalikan haknya kepada yang berhak. Kata radd terhitung berarti sharf yaitu memulangkan kembali. Radd menurut istialh (terminologi) merupakan mengembalikan apa yang tersisa dari anggota dzawul furudh nasabiyah kepada mereka cocok bersama besar kecilnya anggota mereka kalau tidak ada orang lain yang berhak untuk menerimanya. Masalah radd berjalan kalau pembilangan lebih kecil daripada penyebut ( 23/24), dan pada dasarnya adalah merupakan kebalikan dari masalah aul. Namun penyelesaian masalahnya tentu berlainan denga masalah aul, dikarenakan aul pada dasarnya kurangnya yang akan dibagi, tetapi pada rad ada berlebihan setelah diselenggarakan pembagian.

Baca Juga :