Pengertian, Rentang Waktu,dan Ciri Sejarah Indonesia Madya Masa Islam

Pengertian, Rentang Waktu,dan Ciri Sejarah Indonesia Madya Masa Islam

Pengertian, Rentang Waktu,dan Ciri Sejarah Indonesia Madya Masa Islam
Pengertian, Rentang Waktu,dan Ciri Sejarah Indonesia Madya Masa Islam

Pengertian  Sejarah Indonesia Madya Masa Islam

Sejarah Indonesia Madya membahas tentang perkembangan sejarah bangsa Indonesia sejak masuknya pengaruh agama Islam dan pertemuan dengan bangsa-bangsa Barat serta dampak-dampaknya dalam bidang kehidupan. Sejarah Indonesia madya didasari teori trikotomi yang membagi sejarah Indonesia menjadi 3 periode yakni; zaman purba, zaman madya, dan zaman modern, yang masing-masing periode ditandai corak, sifat, dan ciri masing-masing. Sejarah Indonesia Madya Masa Islam  memperlihatkan corak, sifat-sifat dan ciri-ciri tersendiri terutama sekali karena pengaruh agama dan peradaban Islam. Perlu diperhatikan bahwa sebenarnya masuknya agama islam dan datangnya orang-orang Barat di Indonesia terjadi pada saat hampir bersamaan, sekitar abad ke -15 atau awal abad ke- 16. Tetapi berbeda dengan agama dan peradaban islam yang dalam kurun waktu relatif singkat telah memberikan pengaruh yang begitu mendalam dan luas dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia, maka kedatangan bangsa barat tidak begitu segera memperlihatkan pengaruhnya dalam pola dan corak kehidupan bangsa Indonesia. Sejarah Indonesia Madya lebih banyak diwarnai oleh pengaruh agama dan peradaban Islam.

Rentang  Waktu Sejarah Indonesia Madya Masa Islam 

Menempati rantang waktu yang agak panjang, sejak datangnya agama Islam menjelang runtuhnya kerajaan Hindu, Majapahit, sampai akhir abad ke- 19. Namun rentang waktu ini kiranya tidak terlalu ketat batas waktunya, sebab kapan datangnya Islam di Indonesia juga belum pasti benar. Proses Islamisasi di mulai pada abad ke- 15 dan ke- 16, yakni setelah  agama tumbuh menjadi kekuatan agama dan kebudayaan di kepulauan ini. Agama Islam jelas datang dari negeri yang jauh lebih awal lagi. Pedagang-pedagang islam dari Persia, dan Gujarat paling sedikit sudah sejak dua abad sebelum hilir mudik Nusantara ini. Kerajaan-kerajaan Islam pertama di Sumatera Utara telah berdiri pada abad ke- 13 dengan ditandai bahwa islam sudah masuk di Sumatera jauh sebelumnya sebagaimana ditunjukan dengan adanya batu berukir di daerah Lubuk Tua, pantai barat Sumatera Utara, oleh sebab itu awal sejarah Indonesia Madya Masa Islam setidak-tidaknya dimulai sejak abad ke- 13.Sejarah Indonesia Madya Masa Islam diakhiri pada sekitar abad ke- 19. Ini tidak berarti pengaruh agama dan kebudayaan Islam serta proses Islamisasi berakhir pada abad ke- 19.  Berbeda dengan masa sebelumnya, pengaruh agama dan kebudayaan hindu praktis  terhenti setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, tetapi tidak demikaian halnya dengan pengaruh agama dan kebudayaan Islam serta proses Islamisasi yang berlangsung terus hingga kini.

Ciri- ciri dan sifat- sifat Sejarah Madya Masa Islam

Ciri utamanya adalah terjadinya pertumbuhan dan perkembangan agama Islam. Agama ini adalah agama yang datang dari luar yang kedua kalinya setelah agama Hindu- Budha yang memiliki pengaruh yang mendalam pada perkembangan sejarah kehidupan bangsa Indonesia, islam mencapai Indonesia pada paru kedua abad ke- 13. Perkembangan yang pesat dam luas terjadi pada abad ke- 15 dan ke- 16. Pada abad ke- 17 Islam memasuki daerah-daerah pedalaman.
Agama islam berkembang mengikuti jalur pelayaran dan perdagangan. Hal tersebut mempercepat perkembangan agama Islam secara luas melalui pelayaran dan perdagangan laut bangsa Indonesia, dan jalur pelayaran  maupun perdagangan Internasional sudah ada sejak kuno, antara cina, Indonesia (Selat Malaka), India, Asia Barat dan sebaliknya kini semakin bertambah ramai. Demikian juga pelayaran dan perdagangan antarbangsa Indonesia.
Perkembangan penting yang juga menandai zaman madya Indonesia adalah pertumbuhan dan perkembangan kota-kota. Kota- kota yang bercorak Islam itu tumbuh sebagai cendawan di sepanjang jalur perdagangan pada masa itu. Kota- kota itu seperti Perlak, Samudra Pasai, Pidie, Aceh, Palembang, Jambi, Malaka, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Ternate, Tidore, Gowa, Makassar, Banjarmasin dan lainnya. Secara geografis kota-kotatersebut terletak di pesisir-pesisir atau muara-muara sungai besar.
Mula-mula kota-kota tersebut berfungsi sebagai kota pelabuhan, tetapi di kemudian hari terdapat pula diantaranya yang tumbuh dan berkembang menjadi kota Kadipaten atau malahan ada yang menjadi pusat kerajaan. Kebanyakan kota tersebut bersifat maritim, tetapi ada pula yang tumbuh menjadi kota-kota pedalaman yang bersifat agraris, seperti kota Pajang dan Kotagede (Mataram).
Secara fisik kota-kota Indonesia pada masa madya memiliki ciri- ciri tidak jauh beda dengan yang ada di Eropa pada masa abad pertengahan, yakni; adanya pagar keliling, parit,pasar, tempat ibadat, perkampungan, puri, atau keraton tempat kedudukan penguasa atau raja. Tetapi secara ekologis jelas berbeda, kultural dan sosial di Indonesia masih bersifat rural-urban, sedangkan kota abad pertengahan di eropa bersifat urban.(http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-editorial/)
Ciri terakhirnya dengan ditandainya  dengan berkembangnya gaya hidup Feodal yang sejalan dengan proses perfeodalan yang terjadi di eropa pada masa abad pertengahan. Proses perfeodalan ini semakin berkembang sejak abad ke- 17 setelah pusat kekuasaan Kerajaan Islam pindah dari pesisir utara jawa ke daerah pedalaman, lebih-lebih setelah mundurnya peranan perdagangan. Feodalisme mendapat bentuk dan corak yang mapan pada masa kekuasaan Mataram abad ke-18. Semacam golongan borjuis religius-Islam yang dapat mendorong terjadinya proses defeodalisasi baru tumbuh dalam akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.