Sejarah Zaman Renaissance Pada Tahun 1500

Sejarah Zaman Renaissance Pada Tahun 1500

 

Sejarah Zaman Renaissance Pada Tahun 1500

 

Renaissance berasal dari kata Re yang berarti kembali dan naiter yang berarti bangun. Jadi renaissance memiliki arti bangun kembali. Renaissance adalah suatu periode sejarah yang mencapai titik puncaknya kurang lebih pada tahun 1500. Perkataan “renaisans” berasal dari bahasa Perancis renaissance yang artinya adalah “Lahir Kembali” atau “Kelahiran Kembali”. Yang dimaksudkan biasanya adalah kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno. Masa ini ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang seni, pemikiran maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual abad pertengahan. Latar belakang dan implikasi dari renaissance menurut Drs. Surajiyo itu adalah sebagai berikut.

1. Pudarnya kekuasaan politik dan kekuasaan spiritual yang mengakibatkan lahirnya cita-cita semangat pembaruan dan pembebasan.
2. Berkembangnya jiwa dan semangat individualism.
3. Pertentangan (diskusi) antara universalia dan individualia berakhir dengan kemenangan individualia.
4. Timbulnya rasa kebanggan terhadap harta dan derajat manusia. Gejala ini menunjukkan manifestasinya kepada kepercayaan diri bahwa manusia dengan kebebasan, nilai individualis yang optimal, dan kemampuan ilmiahnya merasa mampu untuk menguasai alam semesta ini.

Dalam diktat Sejarah Eropa, faktor- faktor ekstern dan intern yang di alami masyarakat Eropa sehingga memasuki masa Renaissance, antara lain:

  1. Kelahiran Renaissance di Italia sebagia akibat maju pesatnya perdagangan dan pelayaran di perairan laut tengah terutama setelah berakhirnya perang salib.
  2. Menjelang akhir perang salib sebelum dan setelah tahun 1291 barang- barang dari timur diminati di pasaran
  3. Italia dan Eropa baik tenunan, makanan, rempah- rempah, perabotan rumah tangga dan lainnya. Sehingga impor produk timer meningkat dan kota- kota dagang di Italia menjadi ramai.
  4. Dengan ramainya perdagangan banyak memberikan keuntungan kepada pedagang dan melahirkan kaum bourjuis- kapitalis, dimana mereka sebagai masyarakat kota yang kaya juga pemilik modal besar.

Melalui kepemilikan uang dan kekayaan kaum kapitalis membuat mereka mampu membiayai penterjemahan ilmu pengetahuan, penampungan para seniman untuk berkarya (Rusdi Effendi, 2000: 10).
Selama abad pertengahan di Eropa kehidupan manusia diselimuti oleh hal- hal yang bersifat agamis, dengan semboyan hidup tidak selamanya dan ingat akan kematian. Setelah era Renaissance pandangan agamis tersebut mulai ditinggalkan dan tidak di hormati lagi, atau agama Kristen tidak lagi menjadi patokan dan pandangan hidup manusia Eropa pada saat itu. Renaissance adalah masa kekuasaan, masa kesadaran, masa keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan tanpa batas dan sering anpa kesusilaan.

Warisan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dipelajari lagi oleh para cendekiawan yang pada zaman itu disebut “KAUM HUMANIS”. Kaum humanis adalah jargon zaman Renaissance yang sejajar dengan artista(seniman) atau iurista(ahli hukum). Kaum ini adalah guru atau murid fak-fak yang mempelajari kebudayaan, seperti gramatika, retorika, sejarah, seni puisi atau filsafat moral. Karena ilmu-ilmu tersebut emiliki peranpenting di zaman renaissance, kaum humanis juga menjadi orang yang terpandang dalam masyarakatnya. Mereka bahkan dianggap lebih tinggi dari seniman dan ahli hukum. Humanism berupaya membuat sintesis antara iman kristiani dan ilmu pengetahuan, kebudayaan antic dan tradisi Kristen. Gerakan humanisme lalu ditandai oleh kepercayaan akan kemampuan manusia (sebagai kemampuan adi-kodrati), hasrat intelektual, dan penghargaan akan disipiplin intelektual. Kaum humanis ini percaya bahwa rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari iman. Kaum humanis mendorong sekularisasi yatu pemisahan kekuasaan politis dan agama. Humanisme berkembang pesat di Italia, lalu menyebar ke Jerman, Perancis dan bagianEropa lainnya. Beberapa tokoh Humanis yang terpenting adalah Petrarkha (1304-1374), Erasmus(1466-1536), Rabelais(1490-1553), Thomas more ( 1478-1535) dan Cervantes(1547-1616).

Selanjutnya di bidang filsafat pada zaman renaissance muncul aliran-aliran yang memprakarsai lahirnya filsafat zaman modern yaitu filsafat rasionalisme yang tokoh terkenalnya bernama Rene Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677), dan G. Libniz (1646-1716) yang menekankan pentingnya rasio atau akal budi manusia.

1. Rene Descartes

Orang yang digelari sebagai “bapa filsafat modern” adalah Rene Descartes (1596-1650). Ia dilahirkan di Perancis dan belajar filsafat pada Kolese yang dipimpin Pater-pater Yesuit di desa La Fleche. Dalam buku Discours de la method (1637) (Uraian tentang metode) ia melukiskan perkembangan intelektualnya. Di sini ia menyatakan bahwa ia tidak merasa puas dengan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikannya. Dalam bidang ilmiah tidak ada sesuatu pun yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataanya memang dipersoalkan juga. Satu-satunya kekecualian ialah matematika atau ilmu pasti. Sesudah memperluas pengalamannya dengan berpergian ke luar negeri, akhirnya ia menetap di negeri Belanda 20 tahun lamanya. Di sana ia menulis karya-karyanya yang terpenting, seperti misalnya Meditationes de prima philosophia (1641) (Meditasi-meditasi tentang filsafat pertama). Ia meninggal di Stockhlom (Swedia). Descrates berpendapat bahwa dalam diri saya terutama dapat ditemukan tiga “ide bawaan”. Ketiga ide yang sudah adad dalam diri saya sejak lahir masing-masing ialah pemikiran, Allah, dan keluasan.
a. Pemikiran : sebab saya memahami diri saya sebagai mahluk yang berpikir, harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b. Allah sebagai Wujud yang sama sekali sempurna : karena saya mempunyai ide ‘sempurna’, mesti ada suatu penyebab sempurna untuk ide itu, karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Allah.
c. Keluasan : saya mengerti materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.

2. Gottfried Wilhem Leibniz

Gottfried Wilhem Leibniz atau kadangkala dieja sebagai Leibnitz atau Von Leibniz (1646- 1716) adalah seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachsen. Ia terutama terkenal karena faham Théodicée bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Faham Théodicée ini menjadi terkenal karena dikritik dalam buku Candide karangan Voltaire. Leibniz lahir di Leipzig dan meninggal dunia di Hannover.
Selain seorang filsuf, ia adalah ilmuwan, matematikawan, diplomat, fisikawan, sejarawan dan doktor dalam hukum duniawi dan hukum gereja. Ia dianggap sebagai Jiwa Universalis zamannya dan merupakan salah seorang filsuf yang paling berpengaruh pada abad ke-17 dan ke-18. Kontribusinya kepada subyek yang begitu luas tersebar di banyak jurnal dan puluhan ribu surat serta naskah manuskrip yang belum semuanya diterbitkan. Sampai sekarang masih belum ada edisi lengkap mengenai tulisan-tulisan Leibniz dan dengan ini laporan lengkap mengenai prestasinya belum dapat dilakukan.

3. B. Spinoza

Baruch de Spinoza lahir di Amsterdam tanggal 24 November pada tahun 1632. Ayahnya seorang pedagang yang kaya raya. Dimasa kecilnya, dia sudah menunjukan kecerdasannya. Dia tidak hanya belajar matematika dan ilmu-ilmu alam saja , tetapi dia pun belajar berbagai bahasa diantaranya; Latin, Yunani, Belanda, Spanyol, Prancis, Yahudi, jerman dan Italia, pemikirannya banyak dipengaruhi Descartes. Dia mendiskusikan masalah-masalah agama secara terbuka dan gagasan-gagasannya begitu mengejutkan teman-teman dan para tokoh agama saat itu. Misalnya, dia berpendapat bahwa malaikat hanyalah fiksi atau imajinasi belaka dan bahwa Allah bersifat material. Pandangan-pandangan macam ini di abad-20 ini sudah banyak diterima secara ilmiah, tetapi dizaman Spinoza, gagasan-gagasannya betul-betul menggoyangkan kemapanan dogma agama, baik dikalangan Yahudi maupun Kristen.

Buku-buku Spinoza banyak yang dilarang sebagai subversif dan setelah diterjemahkan kedalam bahasa asing, buku-buku itu malah termasyhur di luar negeri. Beberapa karyanya yang termasyhur adalah Renati Descartes principiorum Philosophiae (Prinsip filsafat Descartes, 1663), Tractatus de intellectus emendatione (Traktat tentang Perbaikan Pemahaman, 1677), Tractatus Theologico-Politicus (Traktat Politis-Teologis, 1670), dan yang paling penting Ethica More Geometrico Demonstrata (Etika dibuktikan secara geometris, 1677). Karya-karyanya ini menimbulkan reaksi yang keras dari para pendeta pada zamannya dan dengan cara ini Spinoza menjadi salah seorang pendobrak dogmatisme, seperti Bruno. Baru di abad ke-18 dan ke-19 para kritikus sastra seperti Lessing dan Goethe merehabilitasi nama baik spinoza.

Spinoza banyak dipengaruhi rasionalisme descartes. Kalau destarces menemukan dasar akhir itu pada cogito, sedangkan spinoza menemukan substansi. Menurut spinoza, pikiran mustahil tanpa konsep substansi. Dengan kata “substansi” dia mendefinisikannya sebagai sesuatu yang ada pada dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Dengan definisi spinoza memahami substansi sebagai suatu kenyataaan yang mandiri tapi terisolasi dari kenyataan-kenyataan lain.

Keluasan dan pikiran hanyalah “ atribute”, yang mana dunia hanyalah satu subtansi dengan kedua “atribut” itu. Kita bisa melihat dunia dari “atribut” pikiran dan kita menyebutnya ‘Allah, tapi juga kita bisa melihatnya dari “atribut” keluasan, dan kita menyebutnya ‘alam. Karena itu menurut Spinoza, Allah dan Alam adalah kenyataan tunggal. Spinoza menyebutnya Dues Sive Natura (Allah atau Alam). Pandangan Spinoza ini berbeda dari ajaran agama-agama monoteis yang berpandangan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang bersifat personal dan memisahkan diri dengan ciptaannya. Baginya Alam yang tampak di hadapan kita itu tak lain dari pada Allah yang menampakkan diri. Jadi, alam semesta ini sacral dan religius. Segalanya ada dalam Allah.

Bersama para pemikir modern yang lainnya, dia berusaha membuktikan bahwa kitab suci itu tidak menagandung kebenaran yang absolute dan harfiah. Spinoza juga tidak menerima anggapan bahwa orang yahudi adalah bangsa pilihan Yahwe. Dia menganut kemanusian universal. Baginya tidak ada bangsa yang menjadi anak emas Allah, tak ada agama yang monopoli kebenaran, dan tak ada individu yang tak bisa mengetahui Allah. Dia juga menyutujui pandangan Hobbes dan Machiavelli, bahwa agama harus dikuasai Negara. Di lain pihak, dia juga mengatakan bahwa Negara tidak boleh mendominasi dunia kehidupan pribadi. Dengan gagasan semacam ini, Spinoza menjadi salah seorang tokoh yang merintis konsep hak asasi manusia.

 

Sumber: https://pengajar.co.id/