Pengertian Dan Tujuan Inovasi Pendidikan Menurut Ahli

Pengertian Dan Tujuan Inovasi Pendidikan Menurut Ahli

Pengertian Dan Tujuan Inovasi Pendidikan Menurut Ahli
Pengertian Dan Tujuan Inovasi Pendidikan Menurut Ahli

 

Pengertian Inovasi Pendidikan 

Inovasi berasal dari bahasa Inggris innovation yang berarti segala hal yang baru atau pembaharuan. Ada beberapa pendapat tentang pengertian inovasi tersebut. Rogers (1983) memberikan pengertian inovasi tersebut sebagai suatu gagasan, teknik-teknik, atau praktik atau benda yang disadari dan diterima oleh seseorang atau suatu kelompok untuk diadopsi. Robbins (1994) memberi pengertian terhadap inovasi sebagai suatu gagasan yang baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk, proses, dan jasa. Freedman (1988) memberikan pengertian inovasi sebagai suatu proses pengimple-mentasian ide-ide baru dengan mengubah konsep kreatif menjadi suatu kenyataan. Sedangkan Lena Ellitan dan Lina Anatan (2009) memberikan pengertian inovasi sebagai sistem aktivitas organisasi yang mentransformasi teknologi mulai dari ide sampai komersialisasi. Jadi dari beberapa pengertian inovasi tersebut dapat diketahui bahwa dalam inovasi tersebut tercakup pembaharuan dalam bidang produk, proses, dan inovasi sistem manjerial.
Disamping istilah inovasi terdapat juga beberapa istilah lainya yang mempunyai hubungan dan makna yang sama dengan inovasi seperti misalnya diskoferi dan invensi. Diskoferi adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya ada atau hal tersebut sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Contohnya seperti Newton menemukan hukum Gravitasi Bumi, yang sebenarnya gaya tarik bumi tersebut sudah ada sejak lama, Columbus yang menemukan Benua Amerika tahun 1942, yang sebenarnnya benua tersebut sudah ada, hanya karena Columbus yang menemukan pertama.
Invensi adalah suatu penemuan baru yang benar-benar baru sebagai hasil rekayasa manusia. Manusia melalui pengalamannya, pengamatannya, dan konsistensinya dalam mempelajari atau menelaah sesuatu sampai kepada suatu bentuk model diakui orang lain sebagai sesuatu yang baru, sperti misal teori-teori belajar, arsitektur unik, mode pakaian, teknologi bangunan, dll nya.
Dari beberapa pengertian inovasi tersebut, sebenarnya dapat dimpulkan bahwa inovasi adalah suatu gagasan, barang, kejadian, teknik-teknik, metode-metode, atau praktik yang diamati, disadari, dirasakan, diterima dan digunakan sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok sebagai hasil diskoferi dan invensi.
Demikian juga dalam konteks sosial inovasi juga diberikan pengertian tersendiri, seperti misalnya Zaltman dan Duncan (1973) memberikan pengertian inovasi dalam konteks sosial sebagai berikut, inovasi adalah perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Drucker (1995) memberikan pengertian inovasi sebagai perubahan sosial yang di dalamnya mencakup dimensi proses kreatif, adanya perubahan, mengarah kepada pembaharuan, dan memiliki nilai tambah.
Inovasi dalam suatu perubahan sosial akan mengalami tiga tahapan, yaitu invensi, difusi, dan konsekwensi. Ketiga tahapan tersebut Rogers (1983) menjelaskan sebagai berikut. Invensi adalah suatu tahapan ketika ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan , difusi adalah suatu tahapan proses ketika ide-ide baru dikomunikasikan pada sistem sosial, dan konsekwensi adalah suatu tahapan ketika perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu sistem sosial sebagai akibat dari penerimaan atau penolakan ide-ide baru, dan secara totalitas dan perubahan sosial tersebut merupakan hasil komunikasi. Demikian juga dalam bidang pendidikan sebagai bagian dari suatu sistem sosial inovasi pendidikan diberikan pengertian sebagai suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seorang atau kelompok orang atau masyarakat baik berupa hasil invensi atau diskoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan (Ibrahim. 1988). Pendidikan sebagai suatu sistem mencakup beberapa komponen. Dengan demikian inovasi tersebut dapat dilakukan terhadap setiap komponen sistem pendidikan tersebut yang sudah tentunya dalam inovasi tersebut disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan sistem pendidikan (Miles. 1964). Miles lebih lanjut menje-laskan beberapa komponen sistem pendidikan yang bisa dilakukan inovasi adalah sebegai berikut di bawah ini.
Pertama, pembinaan personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial tentu menentukan personal sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai dengan komponen personal misalnya: peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, sistem atau model pembelajaran guru, dan lain-lainnya.
Kedua, banyaknya personalia dan wilayah kerja. Sistem sosial menjelaskan tentang berapa jumlah personalia yang terikat dalam sistem serta dimana wilayah kerjanya. Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini, misalnya berapa rasio guru dengan murid dalam suatu sekolah. Dalam sekolah yang menganut sistem pamong misalnya diperkenalkan inovasi 1 guru: 200 murid, di Amerika Serikat misalnya 1:27 orang murid, perubahahan luasnya wilayah kepenilikan, dan sebaginya.
Ketiga, fasilitas pisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan mendaya-gunakan berbagai sarana dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan. Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini, misalnya perubahan tempat duduk, perubahan pengaturan dinding ruangan, kelengkapan laboratorium, laboratorium bahasa, penggunaan CCTV, televisi siaran dan sebaginya.
Keempat, penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan akan memeiliki perencanaan penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini adalah pengaturan waktu belajar sistem semester, catur wulan, pembuatan jadawal pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih waktu sesuai dengan keperluannya, dan sebaginya.
Kelima, prumusan tujuan. Sistem pendidikan memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya perubahan perumusan tjuan tiap jenis sekolah, perumusan tujuan pendidikan nasional, dan lain sebaginya.
Keenam, prosedur. Sistem pendidikan mempunyai sistem atau prosedur dalam mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya, penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran individual, dan pengajaran kelompok, dan sebagainya.
Ketujuh, peran yang diperlukan. Dalam sistem pendidikan mempunyai diperlukan kejelasan peran yang diperlukan untuk memperlancar jalannya mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dalam hal ini adalah peran guru sebagai pemakai media, maka memerlukan keterampilan menggunakan berbagai macam media, peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai anggota team teaching, dan sebagainya.
Kedelapan, wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya dikembangkan suatu wawasan dan perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran dalam melaksanakan tugas. Kesamaan wawasan dan perasaan dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditentukan akan mempercepat tercapainya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini seperti misalnya wawasan pendidikan seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan proses, perasaan cinta pada pada pekerjaan sebagai guru, kesediaan berkorban, kesabaran sangat menunjang pelaksanaan kurikulum SD yang disempurnakan, dan sebagainya.
Kesembilan, bentuk hubungan antar bagian. Dalam sistem pendidikan diperlukan adanya kejelasan hubungan natar bagian atau mekanisme kerja antar bagian dalam kegiatan untuk mencapai tjuan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya, didakannya perubahan pembagian tugas antar seksi di kantor depdikbud , di perguruan tinggi, fakultas, biro pengadministrasi nilai maha siswa, dan sebagainya.
Kesepuluh, hubungan sistem sistem yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam beberapa hal harus berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang lain. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: dalam pelaksanaan usaha kesehatan sekolah perlu bekerja sama dengan departemen kesehatan, dalam pelaksanaan KKN harus kerjasama dengan pemerintah daerah setempat, dan sebagainya.
Kesebelas, startegi. Strategi yang dimaksud disini adalah adalah tahap-tahapan kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan. Adapun macam dan pola strategi yang digunakan akan sangat sukar untuk diklasifikasikan, tetapi secara kronologi biasanya menggunakan pola urutan sebagai: (1) desain, ditemukannya suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya berdasarkan suatu penelitian dan observasi atau hasil penilain terhadap pelaksanaan sistem pendidikan yang sudah ada, (2) kesadaran dan perhatian, suatu potensi yang sangat menunjang berhasilnya inovasi ialah adanya kesadaran dan perhatian sasaran inovasi baik untuk individu maupun kelompok akan perlunya inovasi. Bedasarkan kesadaran tersebut mereka akan berusaha mencari informasi tentang inovasi, (3) evaluasi, para sasaran inovasi mengadakan penilaian terhadap inovasi tentang kemampuannya untuk mencapai tujuan, tentang kemungkinan dapat terlaksananya sesuai dengan kondisi dan situasi, pembiayaannya dan sebagainya, (4) percobaan, para sasaran inovasi mencoba menerapkan inovasi untuk membuktikan apakah memang benar inovasi yang telah dinilai baik tersebut dapat diterapkan seperti yang diharapkan. Jika ternyata berhasil maka inovasi akan diterima dan dilaksanakan dengan sempurna strategi inovasi yang telah direncanakan.
Demikian barangkali sebagai gambaran tentang inovasi pendidikan yang disertai dengan contoh-contohnya, yang barangkali akan dapat menjadi pemicu para kepala sekolah untuk dapat melakukan inovasi pendidikan di sekolahnya masing-masing sesuai dengan permasalahan yang perlu diperbaiki sesuai dengan sistuasi dan kondisi sekolahnya masing-masing.

Pentingnya Inovasi Pendidikan

Dalam melakukan suatu inovasi perlu adanya suatu perencanaan termasuk dalam melaksanakan dalam iovasi pendidikan, karena tanpa suatu rencana yang mantap proses inovasi tidak akan dapat terlaksana secara efektif. Setelah diketahui tentang suatu rencana inovasi dilanjutkan dengan pembicaraan tentang beberapa model inovasi pendidikan, kemudian diakhiri dengan pembicaraan tentang petunjuk untuk mengadakan inovasi pendidikan tersebut. Penjelasan tentang penerapan inovasi pendidikan di sekolah diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman jika seorang guru atau kepala sekolah akan mengadakan inovasi atau suatu perubahan di sekolah tempatnya bertugas. Pengertian inovasi pendidikan yang dimaksudkan disini bisa jadi yang berasal dari pemerintah pusat dan bisa juga inovasi pendidikan yang berupa ide atau gagasan baru dalam memperbaiki sekolah di tempat guru dan kepala sekolah bertugas. Untuk dapat melaknakan suatu inovasi tersebut dengan baik, tampaknnya guru dan kepala sekolah perlu memahmai berbagai hal yang berkaitan dengan perencanaan inovasi, model inovasi, dan petunjuk tentang cara menerapakan inovasi pendidikan tersebut. Dengan wawasan yang lebih luas dan lengkap tentang inovasi pendidikan akan dapat membantu kelancaran proses pelaksanaan inovasi pendidikan.
Lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan perguruan tinggi merupakan bagian dari sistem sosial, oleh karena itu jika terjadi suatu perubahan dalam masyarakat, maka pendidikan formal juga akan mengalami perubahan, demikian juga sebaliknya jika lembaga pendidikan mengalami perubahan maka hasil perubahan tersebut akan mempengaruhi terhadap perubahan masyarakat. Dengan demikian sesungguhnya lembaga pendidikan memiliki beban ganda yaitu melestarikan nilai budaya tradisional dan mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapai tantangan kemajuan jaman (Ibrahim. 1988).
Ada dua faktor yang mendorong perlunya inovasi pendidikan di sekolah dilakukan, pertama adalah kemauan sekolah untuk mengadakan respon terhadap tantangan dan kebutuhan masyarakat, dan yang kedua adanya usaha untuk menggunakan sekolah untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Sesungguhnya antara lembaga pendi-dikan dan masyarakat tersebut memmpunyai hubungan yang erat dan saling pengaruh-mempengaruhi (Ibrahim. 1988).
Agar dapat lebih dipahami tentang perlunya inovasi pendidikan tersebut, maka dapat dilihat dari tiga faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah, yaitu kegiatan belajar mengajar guru, faktor internal dan eksternal, dan faktor sistem pengelolaan pendidikan di sekolah sendiri.
Guru di sekolah dalam melaksanakan tugas belajar mengajarnya banyak memiliki kelemahan oleh karena itu maka dibutuhkan dan diadakan inovasi, beberapa kelemahannya tersebut adalah sebagai berikut di bawah ini.
  1. Guru. Keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat ditentukan oleh hubungan interpersonal antar guru dengan siswa. Dengan kemampuan guru yang sama belum tentu menghasilkan prestasi belajar yang sama dalam kelas yang berbeda. Demikian juga sebaliknya kelas yang sama bila diajar oleh guru yang berbeda belum tentu dapat menghasilkan prestasi yang sama, walaupun para guru tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai guru yang profesional.
  2. Guru melakukan tugas dan kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan kegiatan yang terisolasi. Pada waktu sedang mengajar dia tidak mendapat balikan oleh teman sejawat dalammkelompoknya, tanpa diketahui oleh guru yang lainnya. Ia menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh dirinya sebagai guru menganggap sebagai cara yang terbaik. Dengan demikian guru tidak akan mendapat kritik dalam rangka untuk mengembangkan profesinya.
  3. Guru melakukan tugas dan kegiatan pembelajaran, pembelajaran guru merupakan kegiatan yang terisolir, kritik dari teman guru yang lainnya akan tidak ada, maka apa yang dilakukan oleh guru di kelas seolah-olah merupakan hak mutlak tanggung jawabnya, orang lain tidak boleh ikut campur tangan, padahal apa yang dilakukannya mungkin masih banyak kekurangannya.
  4. Guru sulit emilih model pengelolaan pembelajaran karena belum ada kriteria yang baku tentang model pengelolaan pembelajaran yang baku yang menjamin efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Masih ada beberapa variabel lain yang ikut mengkontribusi terhadap keberhasilan belajar murid.
  5. Guru kesulitan dalam menghadapi kondisi siswa yang berbeda-beda dalam berbagai dimensi, seperti dari segi fisik, mental intelektual, sifat, minat, bakat, dan sosial ekonominya. Dengan demikian seorang guru tidak mungkin akan dapat melayani siswa dengan memperhatikan semua perebedaan-perbedaan siswa tersebut.
  6. Guru dalam mengajarnya diharapkan dapat melakukannya dengan menggunakan cara yang pleksibel, di sisi yang lain guru dituntut untuk mencapai perubahan yang sama dalam diri anak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Jadi anak-anak yang berbeda diarahkan menjadi sama. Jika guru tidak dapat mengatasi perbedaan anak ini akan memunculkan keraguan masyarakat terhadap kualitas profesionalnya.
  7. Guru dalam petumbuhan jabatan karirnya mengalami hambatan, karena tugas guru dirasakan berat, pendapatan yang rendah, jumlah siswa yang besar, tugas administrasi, cukup menghadapi tantangan dalam usaha meningkatkan kemampuan profesionalnya, tidak adanya keseimbangan antara kemampuan dan wewenangnya dalam mengatur beban tugas yang dilakukan tanpa bantuan dan insentif dari sekolahnya.
  8. Guru dalam mengelola pembelajaran mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai macam tuntutan yang diutamakan. Ada tuntutan yang mengutamakan keterampilan proses belajar, ada yang mengutamakan menyelesaikan materi dalam kurikulum, dituntut untuk mengutamakan perubahan tingkah laku, ada juga tuntutan yang mengutamakan aspek kognitif. Guru akan dihadpkan pada beberapa plihan yang diutamakan.
Faktor lainnya yang menyebabkan perlunya ada inovasi dalam pendidikan di sekolah, adalah faktor internal yaitu anak didik. Kondisi siswa sangat mempengaruhi terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan adalah untuk terjadinya perubahan tingkah laku anak didik. Anak didik adalah merupakan pusat perhatian dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan berbagai kebijakan pendidikan. Demikian juga para ahli pendidik, pegawai administrasi, konselor yang terlibat langsung dalam pendidikan di sekolah akan membantu untuk mengadakan berbagai fasilitas di sekolah. Demikian juga sistem pendidikan yang membatasi kewenangannya dan peluang bagi guru untuk mengambil kebijakan berkreasi dalam melaksanakan tugasnya untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman. Kondisi sistem pendidikan seperti ini akan bisa jadi menimbulkan rasa prustasi, mengurangi rasa tanggungjawab dan rasa ikut terlibat dalam melaksanakan tugas.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan inovasi pendidikan di sekolah akan lancar jika kemampuan profesional guru lebih ditingkatkan dan diberikan wewenang untuk mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugasnya agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi pada jamannya.

Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan

Kepala sekolah pada dasarnya adalah seorang pemimpin pendidikan di sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan maka dituntut untuk memiliki kemampuan mempengaruhi membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, serta membina dengan maksud agar bawahan sebagai media manajemen dalam hubungan ini guru-guru mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Berbagai hal yang dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah untuk dapat tercapainya tujuan pendidikan di sekolah diantaranya adalah melakukan pembaharuan manajemen di sekolahnya atau melakukan pembaharuan dalam bidang administrasi pendidikan. Danim (2002) menjelas-kan dengan mengutip pendapatnya Coombs bahwa pembaharuan dalam bidang pendidikan harus diawali dengan revolusi dalam bidang administrasi pendidikan. Ini berarti sekolah harus dikelola dengan administrasi yang inovatif.
Kepala sekolah atau pemimpin pendidikan yang ingin atau akan sukses dituntut untuk mengadakan inovasi sehingga mampu menampung dinamika perkembangan yang terjadi di luar sistem pendidikan. Dengan demikian fungsi pemimpin dalam melakukan pembaharuan atau inovasi adalah (a) fungsi tanggap terhadap terhadap inovasi, (b ) fungsi mengharmoniskan atau mengkom-plementasikan atau fungsi pembinaan, dan (c) fungsi pengarahan (Muhadjir. 1983). Lebih lanjut Muhadjir juga menjelaskan bahwa dalam hubungannya dengan fungsi pemimpin dalam melakukan pembaharuan tersebut ada dua macam. Pemimpin yang cepat-cepat tanggap terhadap inovasi, dan pemimpin tidak tanggap terhadap inovasi. Pemimpin yang cepat-cepat tanggap terhadap inovasi disebutnya dengan pemimpin adopsi inovasi.

Kepala sekolah sekolah sebagai pemimpin

Kepala sekolah sekolah sebagai pemimpin, hendaknya menjadi pemimpin adopsi inovasi, lebih dari itu seorang kepala sekolah dalam melakukan inovasi dituntut untuk berani mengambil resiko, proaktif, dan kemitmen pada tugasnya. Tugas lainnya yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai inovator adalah membantu kelancaran jalannya arus inovasi dari pemerintah, oleh para ahli, para kepala sekolah, atau guru yang senior terhadap kliennya atau guru-guru unior yang lainnya. Kelancacaran jalannya proses arus inovasi atau komunikasi inovasi tersebut terjadi apabila inovasi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dari kliennya atau sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Ibrahim (1988) dengan mengutif pendapatnya Rogers menjelaskan bahwa untuk berhasilnya seorang kepala sekolah melaksanakan pembaharuan atau inovasi, maka kepala sekolah tersebut supaya berpedoman pada beberapa faktor.
Pertama, kegigihan yang dilakukan oleh kepala sekolah yang terlihat dari banyaknya bawahannya yang dihubungi untuk berkomunikasi, banyaknya waktu yang digunakan, ketepatan memilih waktu, banyaknya keaktifan yang dilakukan dalam proses inovasi. Keberhasilan pembaharuan kepala sekolah akan berhubungan positif dengan besarnya usaha mengadakan kontak dengan bawahannya.
Kedua, orientasi pada bawahan. Posisi kepala sekolah harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keberhasilan pembaharuan dalam pendidikan di sekolahnya, di satu sisi ia juga bekerja bersama dan untuk memenuhi kepentingan bawahananya. Kepala sekolah harus mengambil kebijakan yang berorientasi pada bawahan, menunjukkan keakraban dengan bawahannya, memperhatikan kebutuhan bawahan, sehingga akan memperoleh kepercayaan yang besar dari bawahan. Dengan demikian keberhasilan kepala sekolah melaksanakan pembaharuan berhubungan positif dengan orientasi pada bawahan dari pada berhubungan dengan pmemerintah sebagai penentu kebijakan inovasi.
Ketiga, Sesuai dengan kebutuhan bawahan. Banyak terbukti usaha inovasi gagal karena tidak mendasarkan pada kebutuhan bawahan, tetapi lebih mengutamakan pada target inovasi sesuai dengan kehendak pemerintah sebagai pembuata kebijakan inovasi. Sehingga keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan pembaharuan akan berhubungan dengan kesesuaian program difusi dengan kebutuhan bahawan.
Keempat, emphati. Kepala sekolah apabila dapat bersikap emphati dalam melaksanakan komunikasi dengan bawahannya akan sangat mempengaruhi efektifitas komunikasinya. Komunikasi yang efektif akan lebih memudahkan menerima suatu inovasi.
Kelima, homophily. Homophily adalah pasangan individu yang berinteraksi dengan memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama misalnya dalam bahasa, kepercayaan, adat istiadat. Biasanya agen pembaruan akan lebih suka komunikasi dengan bawahan yang memiliki persamaan dengan dia.
Keenam, kontak kepala sekolah dengan bawahannya yang berstatus lebih rendah. Sebenarnya bawahan yang lebih rendah kemampuan ekonominya, bawahan yang lebih rendah pendidikannya, harus lebih banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari kepala sekolah.
Ketujuh, para profesional. Pembantu para profesional ialah orang yang bertugas membantu kepala sekolah agar terjadi hubungan dengan bawahan yang bersetatus lebih rendah. Pembantu para profesional dari segi pengetahuan tentang pembaharuan dan teknik penyebaran inovasi kurang dari kepala sekolah. Tetapi dia akan lebih dekat dengan bawahan sehingga memungkinkan untuk kontak secara lebih banyak.
Kedelapan, kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah. Pembantu agen pembaharu kurang memperoleh kepercayaan dari bawahan, jika ditinjau dari kompetensi profesional karena memang ia bukan profesional. Tetapi pembantu para kepala sekolah memiliki kepercayaan dari bawahannya karena adanaya hubungan yang lebih akrab sehingga tidak timbul kecurigaan. Bawahan akan percaya kepada pembantu kepala sekolah karena keyakinannya akan membawa kebaikan bagi dirinya yang disebut kepecayaaan keselamatan.
Kesembilan, kemampuan bawahan untuk menilai inovasi. Salah satu keunikan kepala sekolah dalam inovasi adalah memiliki kemampuan teknik yang menyebabkan ia berwewenang untuk bertindak sesuai dengan keahliannya. Namun untuk dapat berhasil inovasi tersebut bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan teknik dan kemampuan dalam menilai potensi inovasi yang dicapainya sendiri.