Pendidikan Moral Berdasarkan keterangan dari Pandangan Islam

Pendidikan Moral Berdasarkan keterangan dari Pandangan Islam – Ada istilah yang senantiasa disejajarkan saat seseorang merundingkan tentang etika sosial manusia. Di antara istilah-sitilah itu ialah moral, etika, dan akhlak. Rachmat Djatnika (1996:26) dalam bukunya yang berjudul Sistem Ethika Islami menuliskan bahwa sinonim dari akhlak ialah etika dan moral.

Seperti yang telah diterangkan diatas bahwa definisi dari moral digunakan untuk menunjuk untuk suatu perbuatan atau tindakan yang cocok dengan ide-ide umum yang berlaku dalam sebuah komunitas atau lingkungan tertentu.

Sementara itu disebutkan oleh Karl Barth, kata “etika” yang berasal dari kata “ethos” ialah sebanding dengan kata “moral” dari kata “mos”. Kedua-duanya adalahfilsafat mengenai adat kebiasaan. Di sini Karl Barth secara tegas menyerahkan penjajaran yang sama antara kata etika dan moral.

Terkait dengan moralitas atau akhlak insan ini, al-Ghazali menciptakan pembedaan dengan menempatkan insan pada empat tingkatan. Pertama, terdiri dari orang-orang yang lengah, yang tidak dapat memisahkan kebenaran dengan yang palsu, atau antara yang baik dengan yang buruk. Nafsu jasmani kumpulan ini meningkat kuat, sebab tidak memperturutkannya. Kedua, terdiri dari orang yang tahu betul tentang kejelekan dari tingkah laku yang buruk, namun tidak menjauhkan diri dari tindakan itu. Mereka tidak bisa meninggalkan tindakan itu diakibatkan adanya kesenangan yang dialami dari perbuatana itu. Ketiga, orang-orang yang merasa bahwa tindakan buruk yang dilakukannya ialah sebagai tindakan yang benar dan baik. Pembenaran yang demikian bisa berasal dari adanya kesepakatan kolektif yang berupa adat kelaziman suatu masyarakat. Dengan demikian orang-orang ini mengerjakan perbuatan tercelanya dengan leluasa dan tanpa merasa berdosa. Keempat, orang-orang yang dengan sengaja mengerjakan perbuatan buruk atas dasar keyakinannya (Abul Quasem, 1988:92).

Dalam rangka tujuan membina akhlak yang baik dalam diri manusia, al-Ghazali menyarankan supaya latihan moral ini dibuka sejak umur dini. Pribahasa Arab menuliskan bahwa pembelajaran semenjak kecil laksana mengguratkan artikel di atas batu. Orang tua menurutnya bertanggung jawab atas diri anak-anaknya. Bahkan ia mengatakan supaya seorang anak dirawat dan disusukan oleh seorang wanita yang saleh. Makanan berupa susu yang berasal dari sumber yang tidak halal akan menunjukkan tabiat anak ke arah yang buruk. Setelah menginjak usia cerdas (tamyiz), seorang anak mesti diperkenalkan dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan dalam Islam. Seperti dilafalkan di atas, proses ini dapat dilaksanakan melalui pembiasaan dan melewati proses logis atas setiap tindakan , baik yang mencantol perbuatan baik atau buruk. Melakukan identifikasi secara rasional atas setiap dampak dari tindakan baik dan buruk untuk kehidupan diri dan sosialnya.

Ketika pikirana logis tersebut menyertai tindakan seseorang, insya Allah masing-masing orang akan beranggapan lebih dahulu dalam mengerjakan perbuatannya. Apakah perbuatan tersebut berimplikasi buruk, baik yang berupa timbulnya prasangka buruk terhadap dirinya, atau secara langsung berdampak buruk terhadap orang lain. Dengan kata beda ada kontrol yang terus menerus dari diri seseorang saat akan mengerjakan suatu tindakan tertentu. Seseorang bakal mempunyai kesadaran sejati dan pertimbangan yang matang terhadap implikasi-implikasi dari masing-masing perbuatannya.

Sumber: Www.Pelajaran.Id